Monday, March 23, 2009

BMD Dimanakah Engkau??

Sebuah Comment dari post Pencanangan Bintang Musik Daerah membuat saya turut prihatin atas apa yang terjadi apa yang dialami oleh rekan-rekan kita kontingen BMD dari Nusa Tenggara Barat.  Berikut isi comment yang rekan-rekan kita postingkan melalui comment.
Kami dari kontingen NTB [ Nusa tenggara Barat ] yang lolos masuk grand final, sangat kecewa terhadap kegiatan ini tidak terlaksana dan beberapa janji penyelenggara yang menelantarkan sekitar 13 kontingen dari 13 propensi lainnya . Harapan untuk tampil pupus sudah …..

Kronologisnya :
18 maret 2009, tidak ada kejelasan mengenai tiket pesawat ke bali yang dijanjikan oleh panitia sehingga tidak sampai-sampai ketangan kami [ dari pihak panitia terus mengatakan tiket sudah di urus oleh travel ], akhirnya kami memutuskan memakai dana pribadi berangkat lewat darat mengunakan Kapal fery [ Lembar - padangbai ].

Sekitar pukul 9 malam Kami menghubungi pihak panitia kembali yang diterima oleh Ibu ossie [ BMD ] , kemudian dari panitia kami di arahkan ke Hotel Lavender [ nusa dua bali ] namun setelah konfirmasi, pihak hotel menyatakan tidak ada bokingan atas nama Lombok Kundalini [ nama group kontingen NTB ].

Sekitar jam 2 pagi 19 maret 2009 kontingen sampai di Padangbai [ bali ] .. karena bokingan di hotel Lavender tidak ada list nama kami , kami memutuskan untuk menginap di candi dasa (pelangi cave resort) sebelum berangkat menuju BICC Bali dengan harapan disana bisa ketemu pihak panitia BMD. Sekitar jam 6 pagi kita menuju nusa dua menggunakan travel , dengan perjalanan 2 setengah jam kami sampai di nusa dua, Kecurigaan muncul ketika tak satupun dari pihak panitia yang ada di BICC BALI. Kemudian kami memutuskan tetap menunggu perkembangan sampai pukul 10 siang,kontingen mengambil inisiatif untuk bertemu dengan kontingen lain yang menginap di hotel Lavender.

Di hotel Lavender ternyata ada 2 kontingen lain [Makasar dan Kalimantan Barat], mereka juga mengalami keadaan yang sama dengan kami, mereka juga baru tiba dari airport ngurah rai tanpa dijumpai panitia dan biaya hotel ditanggung sendiri oleh peserta sehingga mereka menggurus kekantor dinas pariwisata denpasar, kami menggambil keputusan bersama untuk bertemu kembali tanggal 21 di Hotel Westin BICC Nusa dua.

Tanggal 21 semua perwakilan peserta berada di Westin Nusa Dua dan ternyata atribut acara telah diturunkan, semua peserta yang ada [ sekitar 9 provinsi ] saat itu berkumpul di lobi BICC dengan harapan dapat bertemu dengan salah satu panitia . Ketua panitia penyelenggara Bpk. Bambang Satrio Oryono ternyata akhirnya datang sendirian tanpa ditemani panitian lain , sehingga tumpahlah semua kekecewaan peserta selama ini saat itu juga hadir para pejabat lainya seperti Kepala RRI Pusat. Dari pihak Dinas Pariwisata Bali mengusulkan acara BMD di alihkan ke gedung Art Center Bali.

Pada Pukul 5 sore kontingen NTB dan seluruh kontingen lainnya menuju Gedung pertunjukan Art Center, setiba dilokasi pihak Panitia tidak melengkapi kebutuhan peserta untuk tampil pada sore itu seperti sound system dan perangkat lain yang menunjang penampilan seluruh peserta. Akhirnya semua peserta BMD membuat surat keputusan bersama yang menyatakan meminta pertanggungjawaban pihak penyelenggara [ BMD ] kepada seluruh peserta yang ada untuk mengganti material yang dikeluarkan selama berada dibali dari tanggal 18 sampai dengan kepulangan kontingen kedaerah masing-masing.

Dan pihak penyelanggara menyanggupi surat keputusan bersama. Untuk langkah awal pihak penyelenggara mengusahakan untuk mengembalikan seluruh kontingen ke daerah masing-masing berupa tiket kepulangan. Dan material lain akan dikembalikan oleh pihak penyelenggara dalam tempo 2 sampai 3 minggu,walaupun kami ragu apakah akan diganti .

Beberapa sumber tentang event ini dapat ditemukan di

http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&hs=xbD&q=Bintang+Musik+Daerah+2009&btnG=Telusuri&meta=

Bagaimana anak bangsa dapat menghargai, mencintai budaya sendiri jika usaha pemerintah untuk memajukan budaya sendiri juga kurang maksimal, bahkan terkesan tidak serius.  Doh...  Bertambah Satu lagi ketidakseriusan langkah pemerintah dalam menjaga kelestarian budaya bangsa..

Mungkin pemerintah baru akan sadar setelah budaya-budaya indonesia menjadi seperti lagu Rasa-Sayange diakui(dicuri) oleh Malaysia, sungguh hal kecil seperti ini lama-kelamaan akan menjadi pupuk rasa -anti-nasionalis- bagi Indonesia.

0 comments:

Post a Comment