Sunday, July 31, 2016

Satu Merk dan Model Namun Beda Rasa

Siapa tidak kenal handphone? Kalau dulu mungkin hanya untuk berkomunikasi via voice(suara) maupun sms(text), kalau saat ini handphone berevolusi menjadi sebuah telephone pintar atau yang lebih dikenal dengan smartphone. Smartphone hampir menjadi kebutuhan pokok dari banyak orang sehingga jumlah smartphone yang digunakan diseluruh dunia mengalami kenaikan pesat. Vendor/Produsen smartphone-pun bertebaran; yang dulunya luar biasa raksasa menjadi seperti semut tinggal menunggu kematian, namun vendor startup/kecil yang belum lama seperti semut menjadi vendor raksasa bisa melakukan penjualan luar biasa banyak.

Dengan banyaknya permintaan smartphone dan banyaknya vendor tentunya akan meningkatkan persaingan penjualan, hal ini tentu sangat menguntungkan bagi pembeli/customer karena pembeli bisa memilih tipe smartphone yang lebih cocok dengan dana(budget)  dan kebutuhan masing-masing. Jika dahulu kita hanya kenal vendor-vendor besar seperti Samsung, Motorolla, Nokia, HTC, Blackberry. Maka persaingan saat ini diramaikan oleh ratusan vendor baik dari dalam negeri maupun luar negeri seperti Polytron,Hisense, Evercoss, Huawei, Lenovo, Xiaomi, Meizu, OnePlus dan begitu banyak vendor lain terutama dari smartphone dari negara tirai bambu. Yang sangat menarik dari vendor-vendor baru ini adalah Xiaomi.



Xiaomi adalah sebuah perusahaan smartphone berasal dari China, didirikan oleh Lei Jun pada 6 April 2010. Xiaomi merilis produk pertamanya pada bulan Agustus 2011 dengan menggunakan sistem operasi kebanggaannya MIUI.  Pada 2016 Xiaomi telah mejelma menjadi salah satu raksasa dalam produksi smartphone, hal ini tidak lepas dari masalah harga yang sangat kompetitif yang ditawarkan vendor ini. Dengan sepesifikasi hampir sama maka harga smartphone xiaomi bisa berkurang seperempat hingga separuh atau lebih harga dari vendor-vendor yang lain. Murahnya ponsel ini juga tidak lepas dari  masalah promosi. Xiaomi tidak menggunakan promosi smartphone melakui media-media yang konvensional (TV,Koran, dll) namun lebih membentuk sebuah komunitas untuk menangkap masukan-masukan dari pengguna sehingga lambat-laun banyak orang mengenai produk mereka. Xiaomi sendiri membagi ponselnya menjadi 2 kelas berbeda yakni:

  • Mi Phone -  High-end/Produk dengan spesifikasi tinggi (Mi 4/Mi 4i/Mi 5/Mi Note)
  • Redmi Phone - Middle-Low-End/Produk dengan spesfikasi dan komponen dibawah Mi-Phone (Redmi Note 3G, Redmi 1, Redmi Note 3...) 

 Nah kembali lagi kemasalah harga akan coba diambil contoh dua merek yang menggunakan spesifikasi tidak terlalu jauh berbeda :

  1. Samsung Galaxy A9 (2016)
    • Chipset :  Qualcomm MSM8976 Snapdragon 652
    • CPU: Quad-core 1.8 GHz Cortex-A72 & quad-core 1.2 GHz Cortex-A53  
    • GPU: Adreno 510
    • Internal 32GB // RAM : 3 GB
    • Harga Rp 8.700.000,-
  2. Redmi Note 3 Snapdragon
    • Chipset :  Qualcomm MSM8976 Snapdragon 650
    • CPU: Quad-core 1.4 GHz Cortex-A53 & Dual-core 1.8 GHz Cortex-A72
    • GPU: Adreno 510
    • Internal 32GB // RAM : 3 GB
    • Harga Rp 2.6000.000,- (distributor ~ jika resmi masuk mungkin kisaran 3 jt)
Perbandingan detail pada situs GSMArena, dan memang secara detail spesifikasi Samsung Galaxy A9 lebih baik dibandingkan Xiaomi Redmi Note 3 Snapdragon namun silahkan lihat harga begitu jauhnya.

Namun apa yang membuat Xiaomi mampu memberikan harga yang relatif murah? Salah satunya yang saya alami dan sesuai dengan judul "Satu Merk/Model Namun Beda Rasa". Pertama saya membeli ponsel Xiaomi Redmi Note 3 (Mediatek Version) pada Desember 2015, ponsel dibeli dari distributor karena memang ternyata Redmi Note 3-Helio X10 ternyata hanya dijual dipasar China,  memang kurang ajar juga banyak distributor ponsel dari Indonesia ini. Tidak lama setelah itu yakni dibulan Februari 2016, muncul varian baru dengan spek yang jauh lebih baik yakni Redmi Note 3 Pro(Snapdragon Version). Karena jengkel maka saat itu tidak diputuskan untuk langsung membeli tapi mencoba beralih pada vendor besar Samsung Galaxy S7 Edge dengan pertimbangan tidak perlu banyak mikir karena harga mahal, namun sama "Nama Besar, Harga Mahal, Design Mantab tapi Barang Mengecewakan" (Silahkan Baca #S7EdgeFailed). Bersyukurnya bisa kembali duit semua walaupun dengan kerugian waktu, tenaga dan dana yang tidak terlalu banyak. Akhirnya bulan Mei diputuskan untuk meminang Redmi Note 3 Pro Snapdragon 650.  

--Skip-Skip-Skip-Hanya-kecewa--dengan-LTE/4G-yang-di-lock-karena-XiaomiIndonesia-TKDN-failed. 

Karena puas maka diputuskan  untuk membeli unit kedua untuk digunakan istri, dan dipinang dengan harga Rp. 2.599.000 varian black/grey (Pembelian via Tokopedia gransi KSA). Saat unboxing bisa lewat dan ketika mencoba varian tersebut ada sesuatu yang janggal ketika membandingkan Redmi Note 3 Pro GOLD yang saya gunakan, dengan Redmi Note 3 Pro Black/Grey yaitu pada layarnya. Layar Redmi Note 3 Pro cenderung Yellowish atau kekuningan, dan pada awalnya dikira cacat produk sehingga berencana  untuk mengembalikan pembelian ke Tokopedia (Thanks Agan Heru Santoso/GasPol Motor) yang sebenarnya bersedia mengganti dengan unit baru.  Namun ketika coba mencoba mencari tahu ada apakah hal yang saya rasakan hanya saya yang mengalaminya dan hasilnya  ternyata didapatkan banyak orang yang mengalami hal serupa "Layar Ke-Kuningan". Apakah ini adalah cacat produksi? Ternyata tidak karena layar LCM (LCD Module) yang digunakan ada bermacam-macam dan kalau tidak salah ada 3 tipe LCM yang digunakan yakni SHARP, TIANMA, & BOE. Versi milik saya untuk warna GOLD milik menggunakan TIANMA, dan warna Black/Grey menggunakan BOE.  Saya sendiri belum mendapat informasi official dari Xiaomi mengapa ada 3 jenis LCM panel yang digunakan namun saya mencoba menebak:
  • Biasanya Versi Vendor atau FansBoy - Vendor smartphone akan berkilah bahwa kapasitas produksi LCM panel satu vendor berbeda-beda  (Tidak mampu memenuhi kebutuhan) // Normatif Banget khan. Apa tidak ada QC? 
  • Versi Saya - Itulah salah satu cara menekan biaya produksi, yang pertama diberi yang baik ketika banyak orang mulai mencari diberi yang harganya lebih murah dikit, dan mungkin BOE yang termurah hahahaha. Akan dilihat karena karakteristik layar masing-masing memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri.

Akhir kata itulah makna "Satu Merk dan Model  Namun Beda Rasa". Tulisan berikut akan coba menulis tentang LCM panel kedua merk supaya rekan-rekan yang tidak suka dengan "kuning sexy" bisa menanyakan terlebih dahulu kepada si penjual.




3 comments:

  1. Bang kalo ebbg vendor dari mana?

    ReplyDelete
  2. Saya beli Redmi Note 4X (Distributor), dapet yang Tianma. Kata orang" sih itu kualitasnya paling bagus bwt Xiaomi (lbh awetlah) dan gaada kekuning"an juga.

    ReplyDelete